MManna Kisah
Agrowisata Kopi Robusta dan Lada Manna

Kopi Robusta dan Lada Manna: Menengok Agrowisata dan Ekonomi Tani Bengkulu Selatan

Kopi Robusta dan lada jadi tulang punggung ekonomi tani di Manna, Bengkulu Selatan. Menengok agrowisata kebun, harga, dan kehidupan petani 2025.

Kopi Robusta dan Lada Manna: Menengok Agrowisata dan Ekonomi Tani Bengkulu Selatan

Ringkasan Cepat

  • Manna adalah ibu kota Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu, di pesisir barat daya Sumatra.
  • Kopi Robusta dan lada hitam menjadi komoditas utama perkebunan rakyat di wilayah Bengkulu Selatan.
  • Kebun kopi dan lada umumnya dikelola petani kecil dengan lahan rata-rata di bawah dua hektare.
  • Akses ke Manna dari Kota Bengkulu lewat jalan lintas barat, sekitar 4-5 jam berkendara.
  • Agrowisata kebun kopi dan lada mulai dikembangkan sebagai penunjang pendapatan petani selain jual hasil panen.

Pagi di Kebun Kopi Lereng Bukit Barisan

Udara masih dingin ketika petani di sekitar Manna turun ke kebun. Di lereng barat Bukit Barisan yang masuk wilayah Kabupaten Bengkulu Selatan, kopi Robusta tumbuh di antara pohon pelindung seperti dadap dan lamtoro. Kopi Robusta Manna punya ciri biji lebih besar dan rasa yang cenderung pahit pekat dengan sedikit sentuhan cokelat. Petani memetik cherry merah satu per satu, biasanya mulai pukul tujuh pagi sampai tengah hari. Setelah dipetik, biji difermentasi singkat, dicuci, lalu dijemur di para-para bambu selama beberapa hari tergantung cuaca. Musim panen utama jatuh sekitar Mei sampai Agustus, sementara panen sela bisa terjadi di luar bulan itu. Sepanjang 2025, harga kopi Robusta di tingkat petani bergerak naik-turun mengikuti pasar ekspor, tapi secara umum masih relatif terjangkau untuk biaya produksi.

Lada Hitam, Rempah yang Tak Pernah Sepi

Selain kopi, lada jadi komoditas yang sudah lama akrab dengan petani Manna. Lada ditanam merambat pada tiang kayu atau pohon penopang, biasanya di lahan yang lebih rendah dari kebun kopi. Panen lada berlangsung sepanjang tahun dengan puncak sekitar Juli sampai September. Setelah dipetik, buah lada dijemur hingga kering dan berwarna hitam pekat, lalu dijual ke pengepul di pasar Manna atau langsung ke pembeli dari luar daerah. Harga lada di tingkat petani juga fluktuatif, tapi permintaan dari pasar nasional dan ekspor tetap ada. Banyak keluarga petani di Bengkulu Selatan menggantungkan pendapatan dari dua komoditas ini sekaligus, kopi dan lada, sehingga ketika salah satu harga turun, yang lain bisa menopang.

Agrowisata dan Ekonomi Tani yang Bertahan

Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa kelompok tani di sekitar Manna mulai membuka kebun mereka untuk kunjungan terbatas. Pengunjung bisa melihat proses petik, penjemuran, dan sangrai kopi sederhana. Agrowisata ini belum besar, tapi memberi tambahan penghasilan bagi petani yang mau menerima tamu. Untuk mencapai Manna dari Kota Bengkulu, perjalanan darat lewat jalan lintas barat memakan waktu sekitar empat sampai lima jam. Fasilitas penginapan dan rumah makan di kota kecil ini sederhana, tapi cukup untuk wisatawan yang ingin melihat langsung kehidupan tani. Ekonomi Manna bertumpu pada pertanian, perdagangan hasil bumi, dan sektor jasa kecil. Tantangan utama petani adalah harga yang tidak stabil, cuaca yang makin sulit diprediksi, dan akses pasar yang masih terbatas. Meski begitu, kopi Robusta dan lada tetap jadi napas ekonomi warga Bengkulu Selatan.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Di mana lokasi Manna dan bagaimana cara mencapainya?

Manna adalah ibu kota Kabupaten Bengkulu Selatan, Provinsi Bengkulu. Dari Kota Bengkulu bisa ditempuh lewat jalan lintas barat dengan waktu sekitar 4-5 jam berkendara.

Apa saja komoditas utama perkebunan di Manna?

Kopi Robusta dan lada hitam menjadi dua komoditas utama yang dibudidayakan petani di wilayah Bengkulu Selatan.

Kapan musim panen kopi dan lada di Manna?

Panen kopi Robusta umumnya Mei sampai Agustus, sedangkan lada dipanen sepanjang tahun dengan puncak sekitar Juli sampai September.

Apakah ada agrowisata kebun kopi di Manna?

Beberapa kelompok tani mulai membuka kebun untuk kunjungan terbatas, meski skalanya masih kecil dan belum dikelola secara besar-besaran.